Tuesday, November 17, 2015

Bila Pertemuan Jokowi-Obama Diatur Makelar, Indonesia Salah Pilih Pemimpin?

KONFRONTASI - Bila benar adanya pertemuan Presiden RI Joko Widodo dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama beberapa waktu lalu, bukan kunjungan diplomatik kepala negara yang bersifat saling membutuhkan tapi sekadar memenuhi nafsu pencitraan semata, sungguh memprihatinkan. 

Selain pertemuan itu tidak memiliki manfaat apapun dan Jokowi sendiri terpaksa harus segera meninggalkan tempat. Kabarnya, Jokowi sampai harus mengeluarkan fee dari kas negara, sebesar 80 ribu dolar AS kepada sebuah perusahaan PR di Las Vegas. 

Sialnya lagi pertemuan tersebut dianggap angin lalu saja oleh Obama dan publik AS. Malah,Washington Post koran terbesar di AS menulis liputanya dengan memuat foto Riyamizar Raycudu yang sedang memberi penghormatan di samping Sekretaris Pertahanan AS, Asthon B. Charter, dikira sebagai Jokowi. 

"Peristiwa pertemuan dan salah pemuatan foto ini adalah tragedi," kata pemerhati hukum dan politik dari Indonesia Reform, Martimus Amin (Sabtu, 7/11). 

Di satu sisi Jokowi telah menyelewengkan uang negara untuk membayar broker pertemuan di tengah krisis melanda Indonesia. Kemudian kesengajaan koran Wahsington Post memuat foto Jokowi yang menurutnya jelas pelecehan terhadap pemimpin Indonesia. 

"Tampaknya negara AS memandang pemimpin Indonesia yang berwibawa dan berbobot itu hanya Soekarno dan dari kalangan tentara saja," cetus Martimus. 

"Beginilah kalau salah pilih pemimpin, besar dampaknya yang mesti ditanggung bangsa dan negara. Celakanya pemimpin yang tidak berbobobot dan tidak becus akan selalu menyingkapi kekurangan dengan cara-cara represif," tukas dia seraya menyinggung Surat Edaran Penanganan Ujaran Kebencian sebagai hadian kepulangan Jokowi dari dari AS.[ian/rm]

0 comments:

Post a Comment