Saturday, September 26, 2015

Bencana Kabut Asap Salah Jokowi?

Beberapa minggu terakhir ini sedang ramai pemberitaan soal kabut asap. Bencana ini melanda sebagian Kalimantan dan hampir separuh dari Sumatera. Bencana yang telah membuat roda aktivitas terganggu ini cukup menyita perhatian publik. Dan bahkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga mendapat dampak dari kabut asap ini.

Jokowi yang memimpin pemerintahan sekarang pun tak luput dari kritik dan hujatan. Jokowi dinilai lamban dalam penanganan bencana kabut asap. Hingga puncaknya pengguna sosial media terutama twitter ramai-ramai me-mention akun resmi Jokowi di @Jokowi secara besar-besaran tidak berhenti hingga sekarang.


Saya berada di pulau Jawa yang tidak merasakan dampak kabut asap. Dan apabila saya berada dan menetap di daerah yang terkena dampak, saya pasti akan memprotes pihak terkait utamanya adalah pemerintah sekarang. Namun memang mengkritik adalah hal mudah, memberi solusi dan mau tahu tentang apa yang sudah dilakukan pemerintah adalah bisa jadi adalah hal anti mainstream saat ini.

Kabut asap adalah pekerjaan rumah yang tidak berhenti pada masa pemerintah Presiden siapapun. Hampir setiap tahun saat musim kemarau, kebakaran hutan yang sengaja maupun tidak sengaja selalu muncul. Kenapa saya bilang sengaja? Untuk membuka lahan pertanian, industri dan lain-lain didaerah mayoritas hutan, hal paling gampang adalah membakarnya.

Banyak yang tidak memperhatikan, untuk menangani dampak secara jangka panjang pemerintah telah mewanti-wanti 10 (sepuluh) perusahaan yang kini kabarnya menjadi 27 (dua puluh tujuh) perusahaan yang diindikasikan melakukan pembakaran liar dan ilegal. Perusahaan tersebut dinilai melanggar pelbagai peraturan kelestarian hutan hingga menyebabkan kebakaran.

Kebakaran hutan sebenarnya berawal dari ketidakkontrolan daerah dalam mengatur investasi perusahaan yang masuk didaerah. Pemimpin daerah hanya mengedepankan keuntungan daerah yang instan tanpa memikirkan dampak nasional. Memang karena selalu sudah dipastikan, jika bencana terjadi pemerintah pusatlah yang selalu disalahkan dan presiden selalu menjadi kambing hitam.

Marilah kita apresiasi pemerintah pusat yang memang terkesan lamban menurut sebagian orang ini dalam menangani kabut asap. Semoga mahasiswa lebih sering turun kejalan membagikan masker untuk mencegah dampak kabut bagi kesehatan daripada mencaci dijalanan. Apresiasi saya untuk Jokowi yang beberapa hari lalu blusukan di Sumatera dan kini saat sedang berada di Timur Tengah masih memantau bencana kabut asap.

0 comments:

Post a Comment